Konsumsi Susu Formula, Waspadai Indra Perasa

Susu Formula

Susu Formula

Industrialisasi dewasa ini tidak hanya berdampak pada sistem ekonomi, tetapi juga pada sistem kehidupan sosial, termasuk pengasuhan anak. Budaya ibu susu yang dahulu masih banyak digunakansebagai alternatif untuk memberikan ASI pada bayi kini sudah mulai jarang. Perkembangan teknologi pangan yang mampu memproduksi susu dengan komposisi menyerupai ASI nampaknya menjadi jalan keluar bagi kaum ibu. Susu formula mampu menjadi solusi bukan hanya untuk ibu bekerja tetapi juga bagi ibu yang memiliki keterbatasan dalam produksi air susu yang membuat mereka tidak dapat menyusui anaknya. Berbagai merek susu formula muncul di pasaran. Beberapa produsen telah menambahkan embel-embel A+ di belakang merek susu mereka. Penggunaan kata A+ ini masih banyak menimbulkan pertanyaan di benak konsumen karena tidak memberikan pernyataan yang jelas mengenai perbedaannya dengan susu formula biasa.

Pemberian susu formula memang nampaknya mampu menyelesaikan masalah kebutuhan gizi si kecil. Namun satu hal yang sering terlupakan adalah masalah pengembangan indra perasa dari anak sendiri. Pada saat anak sudah cukup umur dan dapat makan makanan biasa, sebaiknya ibu bertindak cepat untuk memperkenalkan anak dengan berbagai rasa yang ada. Dengan begitu, anak tidak akan terlalu bergantung pada rasa manis dari susu formula yang bisa memicu diabetes di masa dewasanya dan akan lebih mudah untuk menerima aneka ragam rasa makanan yang mensuplai kebutuhan gizinya.




Leave a Reply

Your email address will not be published.